Mursalin
Anda mungkin bisa bayangkan ini, seorang ayah pejabat pajak membeli mobil mewah seharga miliaran rupiah untuk anaknya yang baru berusia 17 tahun. Sang anak, Mario Dandy, kemudian menganiaya David Ozora hingga koma dan merekam aksinya dengan bangga. Video itu tersebar. Indonesia gempar. Tapi yang lebih mencengangkan bukan kekerasan itu sendiri, melainkan apa yang terjadi setelahnya, netizen berubah menjadi detektif dadakan, membongkar harta kekayaan sang ayah yang fantastis mencapai Rp56 miliar, itu tidak wajar untuk seorang pegawai negeri.
Inilah potret kita hari ini, tidak sepenuhnya salah memang. Kadang No Viral No Justice itu berguna. Dan, kita hidup di zaman ketika kebenaran harus diperjuangkan oleh warganet, bukan oleh sistem. Ketika algoritma lebih pandai membaca emosi kita daripada kita memahami diri sendiri. Ketika sebuah video 30 detik bisa menghancurkan reputasi seseorang tanpa konteks. Dan di tengah hiruk-pikuk ini, dua hal yang tampak kuno justru menjadi sangat mendesak: filsafat dan sejarah.
Generasi Tanpa Kompas
Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat 1.923 konten hoaks beredar di Indonesia sepanjang 2024. Angka itu hanya puncak gunung es. Yang lebih mengkhawatirkan: 890 di antaranya adalah hoaks penipuan, disusul 237 hoaks politik. Artinya, kita tidak hanya dibohongi, kita juga dimanipulasi.
Era yang kita alami disebut para pakar sebagai post-truth, masa ketika emosi dan keyakinan pribadi lebih penting daripada fakta objektif. Dalam dunia semacam ini, persepsi menjadi kebenaran baru. Fakta sudah tidak lagi merupakan bagian dari kebenaran. Jika Anda ingin berbantah di media sosial, jangan gunakan data dan angka. Percuma !.
Lebih parah lagi, 81,8% pakar lintas disiplin sepakat bahwa generasi muda Indonesia mengalami brain rot—kemunduran fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital yang cepat, pendek, dan dangkal. Video Reels, TikTok, meme Skibidi Toilet, semua itu bukan sekadar hiburan. Gelak tawa singkat, terselip bahaya yang membuat otak kita sedang busuk.
Neurosaint Kristiana Siste Kurniasanti dari RSCM menjelaskan, penggunaan media sosial berlebih menyebabkan hipoaktivasi otak, kondisi bagian otak yang mengatur fokus, konsentrasi, dan pengambilan keputusan melemah drastis. Psikolog Jati Ariati menyebutnya sebagai intellectual deficiency, penurunan intelektual karena otak malas berpikir mendalam.
Generasi muda kita terbiasa dengan stimulus cepat dan instan. Akibatnya, kemampuan otak untuk menyerap informasi mendalam dan berpikir reflektif menurun. Apa-apa harus cepat, instan, mudah. Hal yang membutuhkan waktu dan kesabaran, seperti membaca buku atau menulis esai, justru menjadi beban yang tak lagi diminati.
Filsafat Sebagai Senjata
Di sinilah filsafat menjadi relevan. Bukan filsafat yang penuh jargon rumit di menara gading kampus, melainkan filsafat sebagai cara berpikir yang radikal, kritis, dan reflektif.
Prof. Dr. Iriyanto Widisuseno dari Universitas Diponegoro menjelaskan bahwa filsafat mengajarkan tiga pilar berpikir yang sangat dibutuhkan di era digital. Pertama, berpikir esensial yaitu kemampuan memahami masalah hingga ke akar persoalannya, bukan sekadar melihat permukaannya. Ketika sebuah video viral memperlihatkan seseorang marah-marah, kita tidak langsung menghakimi, kita bertanya apa konteks lengkapnya? Apa yang terjadi sebelumnya?
Kedua, berpikir komprehensif, yakni melihat persoalan dari berbagai sudut pandang agar tidak terjadi kesalahpahaman. Ini penting karena algoritma media sosial justru melakukan sebaliknya—menciptakan filter bubble dan echo chamber. Algoritma membuat kita hanya melihat informasi yang sesuai dengan keyakinan kita, menyaring informasi yang bertentangan. Kita hidup dalam gelembung informasi yang semakin sempit, semakin terpolarisasi.
Ketiga, berpikir normatif, yaitu mempertimbangkan aspek etika dan moral dalam setiap keputusan. Tidak ada keputusan yang diambil dalam ruang hampa. Setiap tindakan memiliki konsekuensi moral. Ketika kita mem-share sebuah konten, kita tidak hanya menyebarkan informasi, kita juga menyebarkan dampaknya kepada orang lain.
Filsafat mengajarkan kita untuk tidak mudah percaya, tidak mudah terprovokasi. Filsafat membebaskan kita dari belenggu cara berpikir yang mistis dan dogmatis. Di era ketika hoaks lebih viral daripada kebenaran, filsafat adalah benteng pertahanan terakhir kita.
Sejarah: Cermin untuk Tidak Mengulangi Kesalahan
Sementara filsafat memberi kita cara berpikir, sejarah memberi kita perspektif waktu. Sejarah bukan hanya kumpulan tanggal dan nama-nama. Sejarah adalah cermin perjalanan peradaban, dokumen kesalahan dan pencapaian manusia.
Sejarawan yang bijak pernah berkata “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.” Mereka yang tidak belajar dari sejarah dikutuk untuk mengulanginya. Tanpa memahami sejarah, kita seperti kapal tanpa kompas, terombang-ambing mengikuti arus, tidak tahu dari mana datang dan hendak ke mana pergi.
Sejarah membentuk identitas kolektif kita. Melalui pemahaman terhadap peristiwa masa lalu, perjuangan kemerdekaan, pengorbanan para pahlawan, nilai-nilai yang diwariskan, kita mengenali jati diri kita dan membangun rasa kebanggaan nasional. Tanpa kesadaran sejarah, generasi penerus tidak akan tahu asal-usul bangsanya dan bagaimana bangsa ini berkembang dari masa ke masa.
Lebih penting lagi, sejarah mengajarkan kita untuk berpikir kausal, yaitu memahami sebab-akibat dari sebuah peristiwa. Ini krusial di era post-truth, ketika orang lebih suka mencari pembenaran daripada kebenaran. Dengan memahami sejarah, kita tidak mudah termakan narasi yang menyesatkan. Kita tahu bahwa propaganda itu bukan hal baru. Kita tahu bahwa manipulasi informasi sudah ada sejak zaman Romawi kuno. Kita tahu pola-polanya dan karena itu, kita bisa mengenalinya ketika terulang hari ini.
Sayangnya, pembelajaran sejarah di Indonesia masih lebih banyak menghafal nama, tahun, dan tempat, bukan memberikan analisis sejarah dan pemantapan wawasan kesejarahan. Akibatnya, banyak generasi muda yang tidak mengerti konteks dari peristiwa-peristiwa besar yang membentuk Indonesia modern.
***
Kita hidup di era yang paradoks. Informasi berlimpah, tapi kebenaran langka. Kita lebih terhubung dari sebelumnya, tapi lebih terisolasi secara intelektual. Kita punya akses ke seluruh pengetahuan manusia di ujung jari, tapi otak kita makin malas berpikir.
Filsafat dan sejarah adalah dua kaki yang membuat kita bisa berjalan dengan kokoh. Filsafat mengajarkan kita bagaimana berpikir, bukan apa yang harus dipikirkan. Sejarah memberi kita konteks, membantu kita memahami dari mana kita datang dan ke mana seharusnya kita pergi.
Ketika Mario Dandy menganiaya David, yang membuat kasus itu penting bukan hanya kekerasan fisiknya, tapi apa yang kasusnya ungkap tentang sistem korupsi yang mengakar. Ketika netizen berhasil membongkar kekayaan tidak wajar sang ayah pejabat, itu bukan hanya soal viral, tapi tentang penggunaan nalar kritis dan kegigihan mencari kebenaran.
Kita tidak bisa menghentikan algoritma. Tapi kita bisa memilih untuk tidak dikuasai olehnya. Kita tidak bisa menghapus hoaks dari internet. Tapi kita bisa membangun benteng dalam pikiran kita, dengan filsafat dan sejarah sebagai pondasinya.
Di tengah banjir informasi tanpa konteks, di tengah viralitas tanpa makna, kita membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar menggunakan teknologi—tapi bijak memahami kehidupan. Generasi yang tidak hanya cepat men-share, tapi cermat memikirkan. Generasi yang tidak hanya mengikuti tren, tapi memahami mengapa tren itu ada.
Filsafat dan sejarah bukan mata pelajaran usang. Keduanya adalah keterampilan bertahan hidup di abad ke-21. Tanpa keduanya, kita hanya zombie digital, hidup, tapi tidak benar-benar berpikir.
Dan itu, sungguh, adalah tragedi terbesar dari era kita.
